Senin, 18 Januari 2010
PEMILIHAN BAKALAN SAPI POTONG
Pemilihan bakalan sapi yang baik menjadi langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan usaha. Salah satu tolok ukur penampilan produksi sapi potong adalah pertambahan berat badan harian. Penampilan produksi tersebut merupakan suatu fungsi dari faktor genetik, faktor lingkungan, dan interaksi antara kedua faktor tersebut. Dengan bakalan dari genetik bermutu, peternak tinggal mengontrol keadaan lingkungan, sehingga potensi produksi tetap optimal. Meskipun sangat sulit menentukan baik buruknya mutu genetik, secara umum penampilan fisik sapi bakalan mencerminkan mutu genetiknya. Sapi bakalan bisa diperoleh dari berbagai sumber. Di antaranya pembelian langsung dari pasar hewan atau pembibitan sendiri. Upaya pembibitan sendiri merupakan hal yang cukup rumit meskipun bukan suatu hal yang tak mungkin. Pembibitan merupakan usaha yang padat modal dan membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga tanpa penanganan yang serius bisa mendatangkan kerugian yang tidak sedikit.
ASPEK LINGKUNGAN HIDUP DAN SOSIAL BUDAYA PENGGEMUKAN SAPI POTONG
A.Lingkungan hidup
Usaha penggemukan sapi potong pasti akan menghasilkan limbah yang jika tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan perubahan lingkungan. Misalnya, bau kotoran yang tidak terurus bisa menimbulkan polusi bagi lingkungan sekitarnya, atau pembuangan limbah kotoran ternak ke sungai akan menurunkan kualitas air. Penanganan limbah perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya, bahkan bisa diupayakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan, seperti mengolah kotoran menjadi kompos. Penggunaan kompos untuk memupuk hijauan atau tanaman lain akan meningkatkankualitas lingkungan. Limbah air yang digunakan untuk membersihkan kindang dan memandikan sapi sebaiknya ditampung di dalam suatu unit pengolah limbah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran air. Sebuah kolam yang berisi ikan bisa menjadi unit pengolahan limbah yang ekonomis.
B.Sosial Budaya
Usaha penggemukan sapi potong akan memberikan dampak sosial budaya. Misalnya dengan merangsang para petani di sekitar untuk melakukan usaha penggemukan sapi potong secara intensif, karena usaha ini bisa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Selain dampak positif, usaha ini juga menimbulkan dampak negatif, misalnya mendorong sikap konsumtif masyarakat akibat peningkatan penghasilan.
Usaha penggemukan sapi potong pasti akan menghasilkan limbah yang jika tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan perubahan lingkungan. Misalnya, bau kotoran yang tidak terurus bisa menimbulkan polusi bagi lingkungan sekitarnya, atau pembuangan limbah kotoran ternak ke sungai akan menurunkan kualitas air. Penanganan limbah perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya, bahkan bisa diupayakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan, seperti mengolah kotoran menjadi kompos. Penggunaan kompos untuk memupuk hijauan atau tanaman lain akan meningkatkankualitas lingkungan. Limbah air yang digunakan untuk membersihkan kindang dan memandikan sapi sebaiknya ditampung di dalam suatu unit pengolah limbah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran air. Sebuah kolam yang berisi ikan bisa menjadi unit pengolahan limbah yang ekonomis.
B.Sosial Budaya
Usaha penggemukan sapi potong akan memberikan dampak sosial budaya. Misalnya dengan merangsang para petani di sekitar untuk melakukan usaha penggemukan sapi potong secara intensif, karena usaha ini bisa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Selain dampak positif, usaha ini juga menimbulkan dampak negatif, misalnya mendorong sikap konsumtif masyarakat akibat peningkatan penghasilan.
ASPEK FINANSIAL PENGGEMUKAN SAPI POTONG
A.Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya tetap yang dikeluarkan olh peternak atau pengusaha, yang nilainya tetap, meskipun total produknya berubah. Dengan kata lain, biaya ini tidak berubah dan harus dibayarkan walaupun usaha tidak beroperasional. Termasuk dalam biaya investasi adalah biaya pembelian tanah, pembangunan kandang serta peralatannya, perkatoran, gudang, dan sarana trasportasi. Biasanya, biaya investasi diperhitungkan dalam suatu analisis usaha berbentuk biaya penyusutan. Biaya penyusutan dinilai dari nilai beli suatu barang dibagi dengan umur (tahun) pakainya.
B.Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya variable dalam usaha penggemukan sapi potong, yang nilainya berkorelasipositif dengan total produk. Termasuk biaya operasional di antaranya biaya pembelian bahan pakan, dll. Dalam analisis usaha, biaya yang di perhitungkan adalah biaya riilnya.
C.Modal Kerja
Jumlah modal kerja yang dimiliki sangat menentukan skala usaha penggemukan sapi potong yang akan dilaksanakan. Dalam dunia usaha dikenal “Jangan menyimpan telur dalam satu keranjang” yang maksudnya perlu disisihkan sebagian modal yang tersedia, baik untuk menjalankan usaha lain maupun untuk digunakan sebagai dana tak terduga, jika terjadi suatu pada usaha yang sedang dijalankan. Jangan sampai kita kehabisan modal pada usaha penggemukan belum selesai. Penjualan sapi potong pada kondisi ini akan mendatangkan kerugian yang tidak kecil.
D.Pengelolaan Keuangan
Kelemahan usaha tani yang dijalankan secara tradisional tidak adanya pencatatan pengeluaran dan pemasukan uang, sehingga sulit didapatkan kesimpulan bahwa suatu usaha yang dijalankan menguntungkan atau mengalami kerugian. Meskipun masih berskala kecil, usaha penggemukan sapi potong memerlukan pencatatan
Biaya investasi adalah biaya tetap yang dikeluarkan olh peternak atau pengusaha, yang nilainya tetap, meskipun total produknya berubah. Dengan kata lain, biaya ini tidak berubah dan harus dibayarkan walaupun usaha tidak beroperasional. Termasuk dalam biaya investasi adalah biaya pembelian tanah, pembangunan kandang serta peralatannya, perkatoran, gudang, dan sarana trasportasi. Biasanya, biaya investasi diperhitungkan dalam suatu analisis usaha berbentuk biaya penyusutan. Biaya penyusutan dinilai dari nilai beli suatu barang dibagi dengan umur (tahun) pakainya.
B.Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya variable dalam usaha penggemukan sapi potong, yang nilainya berkorelasipositif dengan total produk. Termasuk biaya operasional di antaranya biaya pembelian bahan pakan, dll. Dalam analisis usaha, biaya yang di perhitungkan adalah biaya riilnya.
C.Modal Kerja
Jumlah modal kerja yang dimiliki sangat menentukan skala usaha penggemukan sapi potong yang akan dilaksanakan. Dalam dunia usaha dikenal “Jangan menyimpan telur dalam satu keranjang” yang maksudnya perlu disisihkan sebagian modal yang tersedia, baik untuk menjalankan usaha lain maupun untuk digunakan sebagai dana tak terduga, jika terjadi suatu pada usaha yang sedang dijalankan. Jangan sampai kita kehabisan modal pada usaha penggemukan belum selesai. Penjualan sapi potong pada kondisi ini akan mendatangkan kerugian yang tidak kecil.
D.Pengelolaan Keuangan
Kelemahan usaha tani yang dijalankan secara tradisional tidak adanya pencatatan pengeluaran dan pemasukan uang, sehingga sulit didapatkan kesimpulan bahwa suatu usaha yang dijalankan menguntungkan atau mengalami kerugian. Meskipun masih berskala kecil, usaha penggemukan sapi potong memerlukan pencatatan
ASPEK PEMASARAN SAPI POTONG
A.Proyeksi Permintaan dan Penawaran
Hal yang perlu diperhitungkan adalah kondisi harga bakalan dan harga jual sapi potong di pasaran. Kesalahan dalam perhitungan bisa menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk menjaga agar harga tidak fluktuatif, perlu dilakukan penjajakan penrapan harga kontrak dengan pembeli sapi potong. Langkah ini bisa dilakukan untuk mencegah resiko harga bakalan membumbung tinggi, tetapi anjlok pada waktu sapi potong dipasaran. Disamping itu, perlu dipertimbangkan sapi potong akan dijual hidup atau sudah dalam bentuk karkas.
B.Pangsa Pasar
Jika sapi potong hasil penggemukan akan dijual di pasar lokal, perlu diketahui daya tampung atau kebutuhan pasar lokal terhadap sapi potong yang dihasilkan. Pangsa pasar merupakan hasil pembagian antara kemampuan produksi dan kebutuhan pasar.
Hal yang perlu diperhitungkan adalah kondisi harga bakalan dan harga jual sapi potong di pasaran. Kesalahan dalam perhitungan bisa menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk menjaga agar harga tidak fluktuatif, perlu dilakukan penjajakan penrapan harga kontrak dengan pembeli sapi potong. Langkah ini bisa dilakukan untuk mencegah resiko harga bakalan membumbung tinggi, tetapi anjlok pada waktu sapi potong dipasaran. Disamping itu, perlu dipertimbangkan sapi potong akan dijual hidup atau sudah dalam bentuk karkas.
B.Pangsa Pasar
Jika sapi potong hasil penggemukan akan dijual di pasar lokal, perlu diketahui daya tampung atau kebutuhan pasar lokal terhadap sapi potong yang dihasilkan. Pangsa pasar merupakan hasil pembagian antara kemampuan produksi dan kebutuhan pasar.
ASPEK TEKNIS PENGGEMUKAN SAPI
A.Letak Geografis
Secara umum, Indonesia terletak pada jalur simpangan yang menguntungkan , yakni dua benua dan dua samudera, serta dilalui garis khatulistiwa. Karena itu, Indonesia beriklim tropis dengan dua musim, sehingga perbedaan suhu, curah hujan, kelembaban, dan arah mata angin tidak terlalu fluktuatif. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemlihan lokasi.
1.Temperatur
Sapi termasuk hewan yang peka terhadap perubahan suhu lingkungan, terutama perubahan yang dratis. Suhu tinggi bisa menyebabkan konsumsi pakan menurun dan berakibat pada menurunnya laju pertumbuhan. Untuk hewan tertentu, suhu tinggi juga berpengaruh terhadap kemampuan reproduksi menurun. Pemaksaan penggunaan suhu lokasi yang tinggi temperaturnya fluktuaktif, kurang cocok bagi hewan, akan menyebabkan menurunnya penampilan produksi.
2.Curah Hujan
Tinggi rendahnya curah hujan di suatu lokasi berhubungan erat dengan kondisi temperatur di daerah tersebut.Temperatur pada musim hujan akan lebih rendah dibandingkan dengan pada musim kemarau. Di samping itu, curah hujan yang tinggi berkorelasi dengan ketersediaan pakan yang berupa hijauan. Umumnya, hijauan melimpah pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau terbatas. Lokasi ideal untuk penggemukan sapi potong adalah lokasi yang bercurah hujan 800 – 1500 mm/tahun. Curah hujan yang sangat tinggi bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada sapi potong. Jika kebersihan kandang kurang terjaga, bisa timbul penyakit Pneumonia.
3.Arah Angin
Angin merupakan salah satu faktor pembawa kuman penyakit, sehingga penentuan arah angin yang dominan di suatu lokasi sangat penting sebagai petunjuk bagi pembuatan kandang. Kandang sebaiknya dibangun berderet memanjang sesuai dengan arah angin yang dominan. Hal ini dimaksudkan agar angin yang datang tidak menerpa sapi-sapi secara frontal. Selain itu, perlu diperhatikan arah sinar matahari. Sinar matahari pagi diusahakan masuk ke dalam kandang secara langsung atau tanpa halangan.
4.Kelembapan
Tingkat kelembapan tinggi (basah) cenderung berhubungan dengan tingginya peluang bagi tumbuh dan berkembangnya parasit dan jamur. Sebaiknya, kelembapan rendah (kering) menyebabkan udara berdebu, yang merupakan pembawa penyakit menular. Kelembapan ideal bagi sapi potong adalah 60 – 80 %.
5.Topografi
Topografi lokasi merupakan suatu gambaran tinggi rendah suatu lokasi yang diukur dengan standar di atas permukaan laut. Keadaan topografi mempengaruhi temperatur, curah hujan, dan kelembapan lingkungan. Dalam hal ini, lokasi berbukit bisa menjadi pilihan karena bisa menghambat arah angin. Topografi juga berpengaruh terhadap ketersediaan air di suatu lokasi dan kemudahan sarana transportasi. Jika memungkinkan, lokasi sebaiknya dilalui oleh anak sungai agar ketersediaan air untuk menjaga kebersihan kandang dan untuk memandikan sapi terjamin.
B.Kapasitas Lingkungan
1.Sapi Bakalan
Penentuan lokasi harus memperhatikan ketersediaan bakalan yang akan digemukkan, terutama jika bakalan yang akan digemukkan adalah bakalan lokal. Kapasitas pasar hewan dalam menyediakan bakalan dan letak pasar hewan dari lokasi perlu diperhatikan. Hal ini akan terkait erat dengan perencanaan secara keseluruhan, misalnya jenis sapi yang akan digemukkan dan kapasitas usaha. Di samping itu, keseragaman berat badan sapi bakalan perlu diperhatikan untuk mempermudah penanganan.
2.Ketersediaan Bahan Pakan
Secara tradisional, sapi potong hanya membutuhkan hijauan sebagai pakan. Namun, untuk sebuah usaha penggemukan yang berorientasi pada keuntungan finansial, perlu dipertimbangkan penggunaan bahan pakan berupa konsentrat, sehingga dicapai efisiensi waktu yang akan meningkatkan keuntungan.
3.Infrastruktur
Infrastruktur mencakup kemudahan akses sarana trasportasi, komunikasi, listrik untuk penerangan, luas lahan, perkandangan, pergudangan, dan perkantoran di lokasi penggemukan. Sarana transportasi meliputi prasarana jalan dan alat trasportasiyang akan digunakan, baik untuk arus sirkulasi sapi potong, tenaga kerja, maupun pakan. Perkandangan, pergudangan, dan perkantoran merupakan sarana penunjang operasional yang perlu disediakan dengan mempertimbangkan biaya pembangunan dan skala usaha. Luas lahan perlu dipertimbangkan untuk proyeksi perluasan usaha.
4.Ketersediaan Air
Air mutlak diperlukan dalam usaha penggemukan sapi potong karena berpengaruh langsung pada kehidupan hewan ternak. Selain sebagai air minum, air dipergunakan untuk memandikan sapi dan membersihkan kandang. Perlu dipertimbangkan pula sumber air yang akan digunakan, misalnya air tanah, sungai yang mengalir, atau mata air langsung. Hal ini sangat terkait dengan pembiyaan usaha.
5.Perlengkapan
Semakin besar skala usaha penggemukan sapi potong, semakin tinggi kebutuhan perlengkapan. Contoh, skala usaha dengan kapasitas 10 ekor per bulan tidak perlu memiliki truk sebagai sarana angkutan karena efisiensinya rendah, tetapi skala 100 ekor per minggu membutuhkan sarana angkutan karena jika menyewa kendaraan tidak efisien. Beberapa perlengkapan yang dibutuhkan sebaiknya disesuaikan dengan skala usaha.
6.Tenaga Kerja
Dari segi kuantitas, tenaga kerja bukanlah suatu hal yang sulit. Namu untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik dan bertanggung jawab, diperlukan proses seleksi yang cukup ketat dan diikuti proses pelatihan yang berlanjut, sehingga tenaga kerja memiliki jalur tersendiri. Dalam proses seleksi tenaga kerja, perlu diperhatikan beberapa faktor, seperti tingkat pendidikan, pengalaman, ketrampilan, kondisi fisik, dan jenis kelamin
Secara umum, Indonesia terletak pada jalur simpangan yang menguntungkan , yakni dua benua dan dua samudera, serta dilalui garis khatulistiwa. Karena itu, Indonesia beriklim tropis dengan dua musim, sehingga perbedaan suhu, curah hujan, kelembaban, dan arah mata angin tidak terlalu fluktuatif. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemlihan lokasi.
1.Temperatur
Sapi termasuk hewan yang peka terhadap perubahan suhu lingkungan, terutama perubahan yang dratis. Suhu tinggi bisa menyebabkan konsumsi pakan menurun dan berakibat pada menurunnya laju pertumbuhan. Untuk hewan tertentu, suhu tinggi juga berpengaruh terhadap kemampuan reproduksi menurun. Pemaksaan penggunaan suhu lokasi yang tinggi temperaturnya fluktuaktif, kurang cocok bagi hewan, akan menyebabkan menurunnya penampilan produksi.
2.Curah Hujan
Tinggi rendahnya curah hujan di suatu lokasi berhubungan erat dengan kondisi temperatur di daerah tersebut.Temperatur pada musim hujan akan lebih rendah dibandingkan dengan pada musim kemarau. Di samping itu, curah hujan yang tinggi berkorelasi dengan ketersediaan pakan yang berupa hijauan. Umumnya, hijauan melimpah pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau terbatas. Lokasi ideal untuk penggemukan sapi potong adalah lokasi yang bercurah hujan 800 – 1500 mm/tahun. Curah hujan yang sangat tinggi bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada sapi potong. Jika kebersihan kandang kurang terjaga, bisa timbul penyakit Pneumonia.
3.Arah Angin
Angin merupakan salah satu faktor pembawa kuman penyakit, sehingga penentuan arah angin yang dominan di suatu lokasi sangat penting sebagai petunjuk bagi pembuatan kandang. Kandang sebaiknya dibangun berderet memanjang sesuai dengan arah angin yang dominan. Hal ini dimaksudkan agar angin yang datang tidak menerpa sapi-sapi secara frontal. Selain itu, perlu diperhatikan arah sinar matahari. Sinar matahari pagi diusahakan masuk ke dalam kandang secara langsung atau tanpa halangan.
4.Kelembapan
Tingkat kelembapan tinggi (basah) cenderung berhubungan dengan tingginya peluang bagi tumbuh dan berkembangnya parasit dan jamur. Sebaiknya, kelembapan rendah (kering) menyebabkan udara berdebu, yang merupakan pembawa penyakit menular. Kelembapan ideal bagi sapi potong adalah 60 – 80 %.
5.Topografi
Topografi lokasi merupakan suatu gambaran tinggi rendah suatu lokasi yang diukur dengan standar di atas permukaan laut. Keadaan topografi mempengaruhi temperatur, curah hujan, dan kelembapan lingkungan. Dalam hal ini, lokasi berbukit bisa menjadi pilihan karena bisa menghambat arah angin. Topografi juga berpengaruh terhadap ketersediaan air di suatu lokasi dan kemudahan sarana transportasi. Jika memungkinkan, lokasi sebaiknya dilalui oleh anak sungai agar ketersediaan air untuk menjaga kebersihan kandang dan untuk memandikan sapi terjamin.
B.Kapasitas Lingkungan
1.Sapi Bakalan
Penentuan lokasi harus memperhatikan ketersediaan bakalan yang akan digemukkan, terutama jika bakalan yang akan digemukkan adalah bakalan lokal. Kapasitas pasar hewan dalam menyediakan bakalan dan letak pasar hewan dari lokasi perlu diperhatikan. Hal ini akan terkait erat dengan perencanaan secara keseluruhan, misalnya jenis sapi yang akan digemukkan dan kapasitas usaha. Di samping itu, keseragaman berat badan sapi bakalan perlu diperhatikan untuk mempermudah penanganan.
2.Ketersediaan Bahan Pakan
Secara tradisional, sapi potong hanya membutuhkan hijauan sebagai pakan. Namun, untuk sebuah usaha penggemukan yang berorientasi pada keuntungan finansial, perlu dipertimbangkan penggunaan bahan pakan berupa konsentrat, sehingga dicapai efisiensi waktu yang akan meningkatkan keuntungan.
3.Infrastruktur
Infrastruktur mencakup kemudahan akses sarana trasportasi, komunikasi, listrik untuk penerangan, luas lahan, perkandangan, pergudangan, dan perkantoran di lokasi penggemukan. Sarana transportasi meliputi prasarana jalan dan alat trasportasiyang akan digunakan, baik untuk arus sirkulasi sapi potong, tenaga kerja, maupun pakan. Perkandangan, pergudangan, dan perkantoran merupakan sarana penunjang operasional yang perlu disediakan dengan mempertimbangkan biaya pembangunan dan skala usaha. Luas lahan perlu dipertimbangkan untuk proyeksi perluasan usaha.
4.Ketersediaan Air
Air mutlak diperlukan dalam usaha penggemukan sapi potong karena berpengaruh langsung pada kehidupan hewan ternak. Selain sebagai air minum, air dipergunakan untuk memandikan sapi dan membersihkan kandang. Perlu dipertimbangkan pula sumber air yang akan digunakan, misalnya air tanah, sungai yang mengalir, atau mata air langsung. Hal ini sangat terkait dengan pembiyaan usaha.
5.Perlengkapan
Semakin besar skala usaha penggemukan sapi potong, semakin tinggi kebutuhan perlengkapan. Contoh, skala usaha dengan kapasitas 10 ekor per bulan tidak perlu memiliki truk sebagai sarana angkutan karena efisiensinya rendah, tetapi skala 100 ekor per minggu membutuhkan sarana angkutan karena jika menyewa kendaraan tidak efisien. Beberapa perlengkapan yang dibutuhkan sebaiknya disesuaikan dengan skala usaha.
6.Tenaga Kerja
Dari segi kuantitas, tenaga kerja bukanlah suatu hal yang sulit. Namu untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik dan bertanggung jawab, diperlukan proses seleksi yang cukup ketat dan diikuti proses pelatihan yang berlanjut, sehingga tenaga kerja memiliki jalur tersendiri. Dalam proses seleksi tenaga kerja, perlu diperhatikan beberapa faktor, seperti tingkat pendidikan, pengalaman, ketrampilan, kondisi fisik, dan jenis kelamin
JENIS–JENIS SAPI
Beberapa jenis sapi yang biasa digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi di Indonesia sebagai berikut.
A.Sapi Bali
Sapi bali merupakan sapi lokal dengan penampilan produksi yang cukup tinggi. Populasinya Penyebarannya telah meluas di seluruh Indonesia, meskipun masih tetap terkonsentrasi di Pulau Bali. Asal usul sapi bali ini adalah banteng (Bos sondaicus) yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi selama bertahun-tahun. Kemampuan reproduksi sapi bali merupakan yang terbaik diantara sapi lainnya. Keunggulan lainnya adalah sapi bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga sering disebut ternak perintis.
B.Sapi Ongole (PO)
Merupakan keturunan sapi zebu dari India. Berwarna dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir di bawah leher, dan berpunuk. Sapi ini merupakan persilangan antara sapi Jawa asli (Madura) dengan sapi ongole secara grading up (keturunan hasil persilangan dikawinkan kembali dengan sapi ongole) menghasilkan sapi yang disebut sapi peranakan ongole (PO). Penyebaran sapi PO ini hampir merata di pulau Jawa. Ciri umum sapi PO adalah posturnya menyerupai sapi ongole. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan produksinya yang lebih rendah.
C. Sapi Fries Holstein (FH)
Sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu. Warnanya belang hitam dan putih dengan ciri khusus segitiga pada bagian dahi. Sapi yang tidak berpunnuk ini memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sapi-sapi jantannya sering dipelihara untuk digemukkan dan dijadikan sapi potong. Penyebarannya hampir merata di pulau Jawa.
D. Brahman
Berasal dari India yang merupakan keturunan dari sapi zebu (Bos indicus). Keturunan sapi brahman ini disebut australian brahman cross (ABC) yang biasa dilengkapi sertifikat untuk menunjukkan persentase genetis sapi brahman. Meskipun sudah tumbuh dan berkembang di negeri-negeri empat musim, seperti Amerika Serikat dan Australi, sapi brahman persilangan ini mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan tahan gigitan caplak. Pertumbuhan sapi brahman ini sangat cepat. Hal ini yang menyebabkan sapi ini menjadi primadona sapi potong untuk negara tropis.
E.Sapi Madura
Merupakan hasil persilangan antara Bos sondaicus dan Bos indicus yang tumbuh dan berkembang di Madura. Sapi yang berpunuk ini dikenal sebagai sapi Jawa asli dengan warna kuning hingga merah bata. Terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor, dan kaki bawah. Warna hitam terdapat pada telinga dan bulu ekor. Pemeliharaan sapi Madura di pulau Madura merupakan suatu suatu hal yang unik, karena ada sapi-sapi jantan yang dipelihara khusus untuk dikarap dalam lomba karapan sapi. Pertumbuhan sapi-sapi ini tidak imbang antara bagian depan dengan bagian belakang karena latihan-latihan yang harus dijalani.
A.Sapi Bali
Sapi bali merupakan sapi lokal dengan penampilan produksi yang cukup tinggi. Populasinya Penyebarannya telah meluas di seluruh Indonesia, meskipun masih tetap terkonsentrasi di Pulau Bali. Asal usul sapi bali ini adalah banteng (Bos sondaicus) yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi selama bertahun-tahun. Kemampuan reproduksi sapi bali merupakan yang terbaik diantara sapi lainnya. Keunggulan lainnya adalah sapi bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga sering disebut ternak perintis.
B.Sapi Ongole (PO)
Merupakan keturunan sapi zebu dari India. Berwarna dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir di bawah leher, dan berpunuk. Sapi ini merupakan persilangan antara sapi Jawa asli (Madura) dengan sapi ongole secara grading up (keturunan hasil persilangan dikawinkan kembali dengan sapi ongole) menghasilkan sapi yang disebut sapi peranakan ongole (PO). Penyebaran sapi PO ini hampir merata di pulau Jawa. Ciri umum sapi PO adalah posturnya menyerupai sapi ongole. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan produksinya yang lebih rendah.
C. Sapi Fries Holstein (FH)
Sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu. Warnanya belang hitam dan putih dengan ciri khusus segitiga pada bagian dahi. Sapi yang tidak berpunnuk ini memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sapi-sapi jantannya sering dipelihara untuk digemukkan dan dijadikan sapi potong. Penyebarannya hampir merata di pulau Jawa.
D. Brahman
Berasal dari India yang merupakan keturunan dari sapi zebu (Bos indicus). Keturunan sapi brahman ini disebut australian brahman cross (ABC) yang biasa dilengkapi sertifikat untuk menunjukkan persentase genetis sapi brahman. Meskipun sudah tumbuh dan berkembang di negeri-negeri empat musim, seperti Amerika Serikat dan Australi, sapi brahman persilangan ini mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan tahan gigitan caplak. Pertumbuhan sapi brahman ini sangat cepat. Hal ini yang menyebabkan sapi ini menjadi primadona sapi potong untuk negara tropis.
E.Sapi Madura
Merupakan hasil persilangan antara Bos sondaicus dan Bos indicus yang tumbuh dan berkembang di Madura. Sapi yang berpunuk ini dikenal sebagai sapi Jawa asli dengan warna kuning hingga merah bata. Terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor, dan kaki bawah. Warna hitam terdapat pada telinga dan bulu ekor. Pemeliharaan sapi Madura di pulau Madura merupakan suatu suatu hal yang unik, karena ada sapi-sapi jantan yang dipelihara khusus untuk dikarap dalam lomba karapan sapi. Pertumbuhan sapi-sapi ini tidak imbang antara bagian depan dengan bagian belakang karena latihan-latihan yang harus dijalani.
ARTI EKONOMI SAPI
Sejalan dengan perkembangan zaman, sapi memiliki beberapa arti ekonomis sebagai berikut.
A.Penghasil Susu
Beberapa sapi, seperti FH (frisien bolstein) merupakan sapi penghasil susu, yang lazim disebut sapi perah. Berbeda dengan ternak lain yang menghasilkan susu hanya untuk anak-anaknya, produksi sapi ini cukup tinggi. Rata-rata produksi susu hariannya mencapai 20 liter.
B.Tenaga Kerja
Di beberapa daerah di Indonesia yang belum terlalu bersentuhan dengan teknologi, penggunaan ternak sebagain tenaga kerja masih banyak dijumpai. Contohnya sapi digunakan untuk membajak sawah atau menarik pedati. Bahkan, di Madura, pada waktu-waktu tertentu diadakan lomba karapan sapi, yakni 2 ekor sapi menarik satu alat pembajak sawah (disebut kaleles) yang dinaiki seorang joki.
C.Penghasil Pupuk Kandang
Pupuk kandang merupakan hasil sampingan dari usaha pemeliharaan sapi. Secara umum, sapi dewasa mampu menghasilkan kotoran sebanyak 7,5 ton per tahun, yang identik dengan 5 ton pupuk siap pakai.
D.Penentu status Sosial
Di beberapa daerah, seperti di Madura dan Nusa Tenggara, jumlah sapi yang dimiliki seseorang menentukan status sosial dalam masyarakatnya. Situasi seperti ini bisa dimengerti mengingat harga seekor sapi cukup tinggi. Di Madura, harga sapi dittentukan bukan hanya oleh berat badannya, melainkan lebih pada kemampuaan sapi tersebut menjadi juara dalam karapan sapi. Pasangan sapi pemenang lomba bisa berharga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
E.Penghasil Bahan Baku Industri
Kulit dan tanduk sapi dari hasil pemotongan merupakan sumber bahan baku industri yang menghasilkan nilai tambah cukup tinggi. Dari kulit sapi bisa dihasilkan aneka model tas, sepatu, ikat pinggang, dan lain-lainnya.Tanduk yang hanya sampah, kini disulap menjadi aneka produk kerajinan, bahkan menjadi bahan baku pembuatan lem.
F.Ternak potong
Di atas segala nilai ekonomis seekor sapi, pada akhirnya sapi akan menjadi penghasil daging. Sapi-sapi yang dipekerjakan sebagai pembajak sawah atau ternak-ternak perah yang tidak produktif lagi biasanya akan menjadi ternak potong. Umumnya, mutu daging yang berasal dari sapi-sapi afkiran ini tidak terlalu baik. Meskipun demikian, ada beberapa jenis sapi yang memang khusus dipelihara untuk digemukkan karena karakteristik yang dimilikinya, seperti tingkat pertumbuhannya cepat dan kualitas dagingnya cukup baik. Sapi-sapi inilah yang umumnya dijadikan sebagai sapi bakalan, yang dipelihara secara intnsif selama beberapa bulan, sehingga diperoleh pertambahan berat badan yang ideal untuk dipotong.
A.Penghasil Susu
Beberapa sapi, seperti FH (frisien bolstein) merupakan sapi penghasil susu, yang lazim disebut sapi perah. Berbeda dengan ternak lain yang menghasilkan susu hanya untuk anak-anaknya, produksi sapi ini cukup tinggi. Rata-rata produksi susu hariannya mencapai 20 liter.
B.Tenaga Kerja
Di beberapa daerah di Indonesia yang belum terlalu bersentuhan dengan teknologi, penggunaan ternak sebagain tenaga kerja masih banyak dijumpai. Contohnya sapi digunakan untuk membajak sawah atau menarik pedati. Bahkan, di Madura, pada waktu-waktu tertentu diadakan lomba karapan sapi, yakni 2 ekor sapi menarik satu alat pembajak sawah (disebut kaleles) yang dinaiki seorang joki.
C.Penghasil Pupuk Kandang
Pupuk kandang merupakan hasil sampingan dari usaha pemeliharaan sapi. Secara umum, sapi dewasa mampu menghasilkan kotoran sebanyak 7,5 ton per tahun, yang identik dengan 5 ton pupuk siap pakai.
D.Penentu status Sosial
Di beberapa daerah, seperti di Madura dan Nusa Tenggara, jumlah sapi yang dimiliki seseorang menentukan status sosial dalam masyarakatnya. Situasi seperti ini bisa dimengerti mengingat harga seekor sapi cukup tinggi. Di Madura, harga sapi dittentukan bukan hanya oleh berat badannya, melainkan lebih pada kemampuaan sapi tersebut menjadi juara dalam karapan sapi. Pasangan sapi pemenang lomba bisa berharga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
E.Penghasil Bahan Baku Industri
Kulit dan tanduk sapi dari hasil pemotongan merupakan sumber bahan baku industri yang menghasilkan nilai tambah cukup tinggi. Dari kulit sapi bisa dihasilkan aneka model tas, sepatu, ikat pinggang, dan lain-lainnya.Tanduk yang hanya sampah, kini disulap menjadi aneka produk kerajinan, bahkan menjadi bahan baku pembuatan lem.
F.Ternak potong
Di atas segala nilai ekonomis seekor sapi, pada akhirnya sapi akan menjadi penghasil daging. Sapi-sapi yang dipekerjakan sebagai pembajak sawah atau ternak-ternak perah yang tidak produktif lagi biasanya akan menjadi ternak potong. Umumnya, mutu daging yang berasal dari sapi-sapi afkiran ini tidak terlalu baik. Meskipun demikian, ada beberapa jenis sapi yang memang khusus dipelihara untuk digemukkan karena karakteristik yang dimilikinya, seperti tingkat pertumbuhannya cepat dan kualitas dagingnya cukup baik. Sapi-sapi inilah yang umumnya dijadikan sebagai sapi bakalan, yang dipelihara secara intnsif selama beberapa bulan, sehingga diperoleh pertambahan berat badan yang ideal untuk dipotong.
Langganan:
Komentar (Atom)
